Abu Nasr Al-Faraby, Maestro yang Dibuang

Saya ingin memperkenalkan salah satu filsuf besar alias badag dengan yang karya seabreg tapi sayangnya diakuisisi oleh bangsa Eropa tanpa memperkenalkan biografi dari tokoh yang mereka hisap karyanya. Disini saya ingin berbagi tentang kiprah filsuf badag yang satu ini semoga bermanfaat.

Dia adalah Abu Nasr Muhammad Bin Muhammad bin Auzalagh bin Thurchan, anak dari seorang pembesar militer dari Persia. Dilahirkan di Farab, yaitu suatu negeri bagian Turkestan. Ahli tarikh (sejarah) tidak tahu tahun berapa ia dilahirkan, akan tetapi dengan yakin dapat dipastikan bahwa ia wafat ke wahamatulloh pada usia 80 tahun pada bulan Rajab tahun 339 H (Desember 950 M).

Diriwayatkan bahwa Al-Farabi , adalah seorang yang amat bersahaja, yang mencari sesuap nasi di pagi dan petang harinya sebagai tukang kaga kebun. Walaupun demikian kefakiran yang dideritanya tetapi tak sedikitpun menghalanginya bekerja terus dalam dunia falsafah. Siang hari ia menyingsingkan lengan baju sebagai tukang kebun, malam memegang kalam (kitab/buku), memutar otak selaku filsuf, diterangi oleh pelita yang mengejap-ngejap, ia memberi syarah (bantahan) dan komentar atas falsafah Aristitotele dan Plato, serta membandingkan faham kedua filsuf terebut denga Agama Islam (Al-Qur’an dan Hadits).

Al-Farabi memperdalami semua ilmu-ilmu yang diselidiki oleh Al-Kindi, malah dalam beberapa ilmu, Al-Farabi melebihi Al-Kindi, terutama dalam ilmu mantik (logika).

Selain itu Al-Farabi menulis pula beberapa kitab (buku) tentang berbagai macam maslah yang belum pernah ditulis filsuf lain sebelumnya, seperti kitabnya: Ihshsaiil-‘ulum (statistik dan ringkasan dari bermacam ilmu), dan kitab tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani. Masih ada satu naskah dari kitab tersebut di El-Escorial dekat kota Madrid.

Politik Ekonomi

Selain itu Al-farabi yang pertama kali menulis tentang “Assijasatul-Madaniyah”, yakni yang sekarang banyak orang mengenal isitilah tersebut dengan “Politik Ekonomi”, yang dianggap oleh orang-orang Eropa pada umumnya sebagai pendapat yang Mukhtara (orisinil/asli) dari Filsuf Eropa yang kekinian. Ternyata sejarah tidak berkata demikian, dialah Al-Farabi seorang Filsuf Muslim yang telah hidup 1100 tahun yang lalu, telah menguraikan dasar-dasar ilmu tersebut, diikuti oleh seorang filsuf Muslim pula, Ibnu khaldun dalam kitabnya “Muqaddatnah” dan karya inipun sama halnya dengan karya Al-Farabi, karena hanya Ibnu Khaldun yang membuka pembahasan tersebut tidak ada filsuf lainnya selain beliau yang mengkaji hal tersebut secara terperinci. Dari tangan Ibnu Khaldun inilah sampai pengetahuan tersebut kepada Machiavelli, Hegel, Gibbon dan filsuf lainnya.

Kitab Assijasatul-Madaniyah kabarnya ada yang dicetak di Beirut pada tahun 1906. Usaha Al-Farabi yang amat subtsansi (penting) dalam dunia falsafah yang perlu diketahu oleh kita semua salah satunya adalah komentar dan bantahannya pada falsafah yunani terutama dari Plato dan Aristoteles.

Musik

Pembahasan ini nih yang perlu diketahui oleh kita-kita para pelaku kesenian karena banyak pula jasa bapak filsuf tersebut dalam dunia musik. Abu Nasr Al-Farabi telah banyak memajukan ilmu musik pada zamannya dan hingga saat ini.

Wah masa? Yoi bro, Ia dulu mengarang lagu, membuat instrumen, menulis teori dan memperbaiki kesalahan-kesalahan teori seniman gerot (terdahulu). Serta menyusun metode belajar yang lebih perfecto sempurna. Diterangkannya tipe-tipe suara, bagaimana irama, ritme dan harmoninya. Dijelaskannya macamnya seperti tempo (maat), dan kord-kord major dan minornya.

Dalam teori musik itu, tak segan-segan Al-Farabi mengupas dan menunjukkan yang menurut pandangannya keliru dalam teori pythagoras pada muri-muridnya, seumpama hipotese yang berhubung dengan “suara bintang”dan lain-lain.

Dengan mengadakan praktek Al-Farabi menjelaskan bagaimana cara kerja gelombang suara (geluidsgolven) senar-senar dari alat-alat musik, salah satu alat yang musik yang ditemukan oleh beliau merupakan salah satu alat musik populer saat ini yang banyak menghasilkan nada-nada indah dan dimankan oleh banyak seniman, apa sih alat musiknya? Al-Qonun nama aslinya dan dirubah namanya setelah diakuisisi oleh bangsa Eropa menjadi Piano.

Fantastiknya adalah hanya filsuf ulung ini yang mampu menemukan cara menemukan suara yang empuk dan crunchy (istilah saya kalo bilang nada renyah, hehe jangan ditiru) tidak ada musisi ulung sebelumnya yang mampu menumpahkannya menjadi karya yang amat luar biasa ini. Menulis biografi beliau serasa menggenggam mata pisau (bukan untuk bunuh diri ya). Namun ada pertanyaan besar dibenak saya saat ini “Apa yang sudah saya lakukan ya untuk kebanggaan nanti?" Hmm, tapi lain lagi dengan jiwa yang merasa tertantang untuk melakukan sesuatu yang sangat besar suatu saat nanti hingga dapat mendatangkan manfaat yang baik bagi banyak orang, berharap menjadi Multi-Level-Amal (MLA) setelah usia dipensiunkan oleh Allah S.W.T Aamiin.

Kehidupan

Bagaimana kehidupan dan penghidupan tokoh inspiratif yang agung ini? Abu Nasr Al-Farabi atau Farabius (nama latinnya) hidup dengan akhlak yang tinggi, dia tidak terjebak materialisme meskipun hal itu mampu didapatkannnya dengan mudah bila kita lihat bagaiman talenta yang dimilikinya, namun dia amat mencintai dunia falsafah, ilmu dan seni.

Dia pernah bekerja di istana Amir Saifud-Daulah di Halb (Aleppo) dan pada masa itu, ia hanya mau menerima upah sebatas memenuhi kebutuhannya sehari-hari saja, tidak lebih dari dari 4 dirham (Sekitar Rp200.000,-) kemudian ia pindah ke Damaskus dan menetap disana sampai ia meninggal.

Sekianlah dengan ringkas untuk menghidupkan dan mengenal kembali tokoh agung, seorang cendekiawan muslim yang terasing sejarahnya dan karya-karya agungnya di zaman modernisasi ini.

Hidup bersahaja dalam muddah (materi) sebagai fakir, tapi memegang kendali dialam ruhani sebagi raja!!

Al-Farabi meninggal pada tahun 950 M sebagai seorang miskin yang tidak meninggalkan harta benda, akan tetapi wafat sebagai seorang yang alim (berilmu luas/tinggi), meninggalkan pusaka ruhani yang tak ternilai, tak rusak dimakan zaman, meskipun telah melintasi ratusan tahun menjadi pusaka di dunia kebudayaan. Wahai ahli waris, mengapa pusaka dibiarkan hanyut?

Tag: sejarah, islam, music

neosophia

Seorang Seniman, Sastrawan, Sejarawan dan Musisi.

Baca Juga

Deen Squad, Melawan Islamophobia dengan Musik

Oleh ~bukanotoy~ 2016-09-23 16:51:33

Musik rap atau hip-hop mainstream yang beredar dan terkenal di kalangan anak muda saat ini identik dengan kekerasan, seks, narkoba dan hal-hal berba...

Purgatory - Syi’ar Islam Dengan Musik Metal

Oleh ~bukanotoy~ 2016-09-21 21:51:10

Apa yang pertama kali muncul di pikiran kalian ketika mendengar kata Musik Death Metal? Pasti yang terpikir oleh masyarakat umum adalah musik yang b...

Komentar